SIFAT BAKHIL MANUSIA

Kata bakhil yang biasa diterjemahkan dengan kikir atau pelit mengandung arti menahan untuk memberi sesuatu yang semestinya diberikan. Al-Jurjani dalam kitab At-Ta’rifat (1988: 42) mendefinisikan bakhil dengan menahan hartanya sendiri, yakni menahan memberikan sesuatu pada diri dan orang lain yang sebenarnya tidak berhak untuk ditahan atau dicegah, misalnya uang, makanan, minuman, dan lain-lain. Ketika orang memiliki uang, makanan, dan minuman yang mestinya bisa diberikan kepada yang membutuhkan, kemudian enggan untuk memberikannya, maka ia adalah bakhil. Bila bakhil lebih menekankan kepada diri pribadi, maka ada sifat lain yang lebih jelek dari bakhil berkaitan dengan menahan dan mencegah pemberian di atas, yakni yang disebut syuh, artinya sikap orang bakhil yang mendorong orang lain agar berperilaku yang sama. Dalam Tafsir Al-Maraghi Jilid IV (1993: 257) disebutkan bahwa bakhil adalah tidak mau menunaikan zakat dan enggan mengeluarkan harta di jalan Allah. Hal ini sejalan dengan makna bakhil yang diutarakan oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Tafsir Al-Aisar Jilid I (1992: 416), bahwa orang yang bakhil adalah orang yang memiliki harta tapi mereka pelit untuk menginfakkan hartanya.
Sifat bakhil merupakan salah satu akhlak tercela, berbahaya, harus dijauhi, dan sifat yang menyebabkan orang tidak akan masuk surga. Rasul SAW bersabda: “Jauhilah kekikiran, karena sesungguhnya ia telah mengajak orang-orang sebelum kalian untuk menumpahkan darah mereka, menodai kehormatan mereka dan memutuskan kekerabatan mereka.” (H.R. Hakim). Dalam riwayat lain Rasul SAW bersabda: “Dua sifat yang tidak akan berhimpun dalam diri seorang Muslim: kikir dan perangai yang buruk.” (H.R. Tirmidzi). Sabda Rasul Saw yang lainnya: “Seburuk-buruknya sesuatu yang ada pada seseorang adalah kekikiran yang menyedihkan dan sifat pengecut yang melucuti.” (H.R. Abu Dawud). Sabda lainnya: “Tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengkhianat dan orang yang berperangai buruk.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).
Buruknya sifat bakhil ini juga dapat dilihat pada Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Menurut Al-Maraghi (1993: 259), sebagian mufassir mangatakan bahwa makna pengalungan di sini adalah makna yang hakiki. Orang-orang bakhil kelak akan dikalungi dengan suatu beban sebagai azab bagi mereka, kemudian harta benda yang dibakhilkan itu berubah wujud menjadi ular-ular yang melilit leher. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang diberi oleh Allah harta lalu ia tidak keluarkan zakatnya, maka harta itu akan diserupakan untuknya sebagai seekor ular tua (besar) dengan kedua biji mata seperti dua butir buah anggur yang akan melilitnya pada hari kiamat, ia akan mencengkeram kedua dagunya, lalu berkata,”Aku adalah hartamu, aku adalah harta tabunganmu.” Kemudian Nabi SAW membaca Surat Ali-Imran ayat 180 di atas.
Orang-orang yang bakhil termasuk salah satu golongan orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 36-37: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”
Waryono Abdul Ghafur (2004: 37-38) dalam bukunya Strategi Qur’ani menganalisis sebab utama yang mendorong manusia bersifat bakhil adalah cinta harta yang berlebihan.Cinta harta biasanya disebabkan oleh dua hal, yaitu: 1) menuruti keinginan yang tidak bisa dicapai kecuali dengan harta yang disertai dengan panjang angan-angan; 2) cinta terhadap harta dan menikmati dalam melihatnya, lebih-lebih bila harta tersebut dapat menambah dalam memenuhi kebutuhan menunjang sisa-sisa umurnya atau kelangsungan keluarganya. Orang-orang yang kikir biasanya berpandangan bahwa ia akan kekal dengan hartanya atau karena alasan untuk anak cucunya kelak.
Mengobati penyakit bakhil dengan cara mengenali sebab-sebabnya. Cara mengobati sebab pertama adalah qona’ah dengan sesuatu yang mudah dan sabar. Sedangkan untuk mengobati panjang angan-angan adalah dengan memperbanyak ingat mati dan melihat orang lain yang juga mati, padahal ia dengan susah payah mengumpulkan harta, kemudian menyia-nyiakannya serta tidak memberi banyak manfaat kepadanya. Adapun cara mengobati sebab yang kedua adalah dengan menyadari bahwa harta yang dianugerahkan Allah kepada kita merupakan amanat atau titipan yang harus dijaga dan digunakan untuk jalan kebaikan bukan jalan kemaksiatan. Bersyukur atas nikmat harta merupakan jalan terbaik daripada mengkufurinya. Tidak lazim dan tidak pantas bagi seorang Muslim menggunakan hartanya untuk berfoya-foya, hura-hura, berjudi, dugem, berzina, modal untuk menipu orang, modal untuk mencuri, menyuap (korupsi), dan perilaku buruk yang lainnya. Sangatlah elegan dan bermanfaat di dunia dan diakhirat jika harta yang kita miliki digunakan untuk berifaq di jalan Allah. Harta dipakai untuk menolong orang yang lemah, fakir, miskin, yatim, piatu; membantu pembangunan madrasah, mushola, masjid, dan lain-lain. Dijamin dengan berinfaq harta tidak akan berkurang dan orang tidak akan bangkrut karena sering bersedekah. Justru dengan menginfakannya di jalan Allah harta akan bertambah bahkan melimpah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (infaq yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”
Namun demikian, Allah SWT menganjurkan agar manusia beriman memiliki sifat yang moderat terhadap harta, yakni tidak kikir tapi juga tidak terlalu dermawan (mudah memberi), sehingga tidak menyisakan untuk diri dan keluarganya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surat Al-Isra ayat 29: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan kamu terlalu kikir dan jangan pula terlalu pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” Juga firman-Nya dalam Surat Al-Furqan ayat 67: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Tidak lupa juga kita selalu berdo’a agar terlindung dari sifat bakhil. Do’a tersebut adalah: “Allaahumma innii a’uuzubika minal ‘ajji wal kasali wal jubni wal bukhli wal harami.” (Ya Allah, sesungguhnya Aku berlindung kepadamu dari sifat lemah, malas, takut, kikir, dan ketuarentaan (kepikunan)”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s