NIKMATNYA BERSEDEKAH

Image

          Bersedekah itu pasti nikmat. Bersedekah merupakan salah satu usaha untuk mensyukuri nikmat. Betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada manusia, maka sangat naïf dan tidak etis apabila manusia tidak mensyukuri nikmat tersebut. Allah swt menyuruh manusia untuk mensyukuri nikmat, tidak mengkufurinya. Firman-Nya: “…dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152). “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

            Bersedekah itu dijamin mendapatkan berbagai kenikmatan yang berupa keutamaan, antara lain: Pertama, dilipatgandakan pahalanya (Al-Baqarah: 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”). Tidak ada ceritanya orang yang sering bersedekah hidupnya bangkrut, justru dengan bersedekah hidupnya kian makmur dan sejahtera. Sebaliknya, orang yang tidak bersedekah alias kikir bin bakhil, hidupnya sering mengalami kebangkrutan. Ancaman bagi orang bakhil seperti difirmankan Allah swt dalam surat Ali-Imran ayat 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

            Kedua, disuburkan keberkahan hartanya. Firman-Nya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276). Menyuburkan sedekah artinya memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

            Ketiga, sedekah ialah amalan yang tidak putus pahalanya walaupun sudah meninggal dunia. Sabda Rasul SAW: “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak saleh yang mendo’akan orangtuanya.” (HR. Muslim). 

Sedekah itu nikmat, betapa bahagianya dalam diri orang yang bersedekah karena hartanya menjadi bersih dan suci. Allah swt berfirman: “Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan sedekah (zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikanmereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103).

MENSYUKURI NIKMAT

Allah swt telah menganugerahkan nikmat kepada manusia dengan begitu banyaknya. Beberapa contoh diantaranya difirmankan-Nya: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir.” (Al-Balad: 8-9). “Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Al-Mulk: 23). ““Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78).

Diceritakan bahwa pada suatu malam seorang ulama bernama al-Fudhail bin ‘Iyadh membaca Al-Qur’an surat Al-Balad ayat 8-9, lalu ia menangis. Maka orang-orang yang melihatnya menanyakan apa yang membuatnya menangis? Ia menjelaskan, “Tidakkah engkau memasuki malam harimu dalam keadaan bersyukur kepada Allah swt yang telah memberikan dua mata kepadamu dan dengan dua mata ini engkau dapat melihat? Tidakkah engkau memasuki malam harimu dalam keadaan bersyukur kepada Allah swt yang telah menjadikan untukmu satu lidah yang dengannya engkau dapat berbicara?” Fudhail terus menerus menyebutkan organ-organ seperti ini dengan mengajukan pertanyaan retoris yang sama.

Saking banyaknya nikmat dari Allah swt, manusia dipastikan tidak dapat menghitungnya. Firman-Nya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18). “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34).

Salah satu kewajiban manusia terhadap nikmat tersebut adalah bersyukur, sebagaimana firman Allah swt: “…dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152). Bersyukur artinya Al-‘Iddi’aanu ‘Alaa Ni’matillaahi (mengakui atas nikmat yang diberikan Allah). Secara garis besar, bersyukur dapat dilakukan dengan tiga cara: Pertama, dengan hati, yaitu dengan mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata. Kedua, dengan lisan, yakni dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah wasysyukru lillah. Ketiga, dengan perbuatan, yaitu mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah swt untuk menunaikan perintah-perintah-Nya, baik perintah wajib, sunat maupun mubah. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah swt dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya, baik larangan yang haram maupun yang makruh.

Akan tetapi sayang banyak manusia yang tidak bersyukur pada-Nya, malahan mereka justru mengkufuri nikmat-Nya. Firman-Nya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7). Tidak sedikit manusia yang tertipu dalam menggunakan nikmat itu, seperti sabda Rasul SAW: “Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu oleh dua kenikmatan ini, yaitu: sehat dan  waktu luang.” (HR. Bukhari). Di kala sehat manusia mempergunakannya untuk berbuat maksiat, di saat waktu luang ada, manusia memanfaatkannya dengan cara-cara yang munkar dan tidak maslahat.

Kita semestinya menyadari bahwa semua kenikmatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Firman-Nya: “…Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.” (Al-Isra: 36). “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8).

NIKMATNYA BERSEDEKAH

Bersedekah itu pasti nikmat. Bersedekah merupakan salah satu usaha untuk mensyukuri nikmat. Betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada manusia, maka sangat naïf dan tidak etis apabila manusia tidak mensyukuri nikmat tersebut. Allah swt menyuruh manusia untuk mensyukuri nikmat, tidak mengkufurinya. Firman-Nya: “…dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152). “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

            Bersedekah itu dijamin mendapatkan berbagai kenikmatan yang berupa keutamaan, antara lain: Pertama, dilipatgandakan pahalanya (Al-Baqarah: 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”). Tidak ada ceritanya orang yang sering bersedekah hidupnya bangkrut, justru dengan bersedekah hidupnya kian makmur dan sejahtera. Sebaliknya, orang yang tidak bersedekah alias kikir bin bakhil, hidupnya sering mengalami kebangkrutan. Ancaman bagi orang bakhil seperti difirmankan Allah swt dalam surat Ali-Imran ayat 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedua, disuburkan keberkahan hartanya. Firman-Nya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276). Menyuburkan sedekah artinya memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

Ketiga, sedekah ialah amalan yang tidak putus pahalanya walaupun sudah meninggal dunia. Sabda Rasul SAW: “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak saleh yang mendo’akan orangtuanya.” (HR. Muslim). 

Sedekah itu nikmat, betapa bahagianya dalam diri orang yang bersedekah karena hartanya menjadi bersih dan suci. Allah swt berfirman: “Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan sedekah (zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikanmereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103).

CIRI-CIRI PENGHUNI SURGA (DIMUAT DI BULETIN MASJID AGUNG KOTA TASIKMALAYA, EDISI JUM’AT 12 APRIL 2013)

Penulis:

Ilam Maolani

Ada beberapa nama surga yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu Firdaus, ‘Adn, Na’im, Ma’wa, Darussalam dan Khuldi. Ciri-ciri orang yang akan menghuni Surga Firdaus difirmankan Allah swt. dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1-11: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, apabila kita menginginkan menjadi penghuni surga Firdaus, maka ada delapan syarat yang harus dipenuhi, antara lain: beriman, khusu’ dalam shalat, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluan dari maksiat, memelihara amanah, menepati janji, dan menjaga shalat.
Sedangkan untuk Surga ‘Adn, ciri-ciri penghuninya adalah seperti yang difirmankan Allah swt. dalam surat An-Nahl ayat 30-31, Thaha ayat 75-76, Ar-Ra’ad ayat 22-23, dan Fathir ayat 32-33. “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan Itulah Sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa.” (An-Nahl: 30-31). “Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Thaha: 75-76). “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar, (bagi mereka) surga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.” (Fathir: 32-33). “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (Ar-Ra’ad: 22-23).
Bertitik tolak dari ayat-ayat di atas, terdapat tujuh syarat jika kita ingin memasuki surga ‘Adn, antara lain: bertakwa kepada Allah, benar-benar beriman, beramal saleh, banyak berbuat baik, sabar, menginfakkan hartanya, dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
Surga Na’im, diperuntukkan bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan beramal saleh, seperti dalam surat Al-Qalam ayat 34 (Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya), Luqman ayat 8 (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan), Yunus ayat 9 (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan), dan Al-Hajj ayat 56 (Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan).
Surga Ma’wa merupakan tempat bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An-Najm ayat 15: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal), beramal saleh (As-Sajdah ayat 19: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan), serta takut kepada kebesaran Allah dan menahan hawa nafsunya (An-Naziat ayat 40-41: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya).
Penghuni Surga Darussalam adalah orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, memperhatikan ayat-ayat Allah, serta beramal Saleh, seperti yang difirmankan Allah swt. dalam Surat Al-An’am ayat 127: “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.”
Penghuni Surga Khuldi adalah orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (bertakwa), seperti dalam Surat Al-Furqon ayat 15: “Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?”.

MALANG NIAN NASIB KORUPTOR (Dimuat di Koran Kabar Priangan Edisi Jum’at 5 April 2013)

Penulis:
Ilam Maolani

Adanya realita di negara kita tentang ratusan bahkan ribuan orang yang melakukan tindak pidana korupsi (koruptor), menggugah penulis untuk menyadur kembali tulisan Ustadz Abu Ihsan al-Atsary, dalam Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV/1431/2010M, yang diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Tulisan itu berjudul Malang Nian Nasib Sang Koruptor. Tulisan berikut ini penulis tambah dengan beberapa alinea yang dapat memperkuat argumentasi tulisan asal.
Sungguh malang nasib para koruptor itu. Kekayaan hasil korupsi yang mereka kumpulkan ternyata tidak membawa manfaat apapun bagi mereka. Harta tidak berkah itu justeru menjadi sumber malapetaka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan ancaman hukuman yang berat. Di akhirat kelak telah menunggu siksa yang keras bagi mereka.
Coba lihat akibat buruk perbuatannya, semua manusia mengutuknya dan mendoakan keburukan atas dirinya. Harta yang diperolehnya juga tidak membawa berkah. Berapa banyak koruptor yang mati secara tersiksa karena penyakit yang dideritanya, harta hasil kejahatannya itu habis terkuras sedikit demi sedikit untuk biaya pengobatan.
Sebagian orang yang silau dengan harta yang menumpuk mengira para koruptor itu benar-benar bahagia. Mereka mengira para koruptor itu bisa mendapatkan apa saja dengan harta yang melimpah. Ini adalah penilaian yang keliru. Siapa bilang hidup para koruptor itu enak? Hidup mereka diliputi rasa takut dan khawatir. Takut dan khawatir kejahatan mereka terbongkar. Hati mereka galau dan senantiasa dalam kekalutan. Itulah hakikat dosa, yaitu sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau khawatir orang lain mengetahuinya. Dalam kitab Shohihul Jami dinyatakan bahwa “dosa adalah segala yang mengganjal dalam dadamu dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.”
Bahkan untuk menutupinya mereka rela melakukan apa saja walaupun harus berbuat kezhaliman. Begitulah tabi’at kejahatan, bila pelakunya tidak segera bertaubat, maka kejahatannya itu akan melahirkan kejahatan yang lain pula.
Begitulah kalau sudah memakan hasil korupsi, bukan kepuasan yang dirasakan jiwanya namun justru sebaliknya, ia akan semakin rakus dan tamak layaknya orang kesurupan. Sehingga yang menjadi mottonya adalah ‘tiada hari tanpa korupsi’.
Tabiat para koruptor ini pun menjadi liar dan ganas, tak pandang bulu siapa dan apa yang akan menjadi santapannya. Sampai-sampai dana pembangunan tempat ibadah dan proyek pengadaan Al-Qur’an pun tega ditilep. Dana pengadaan simulator SIM tak ketinggalan dikorup. Sungguh keterlaluan. Rasa malu berbuat jahat sudah sirna dari hatinya. Akibatnya, dia berbuat semena-mena. Mata hatinya tertutup bahkan buta, sehingga tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tolok ukurnya serba terbalik, yang jahat dianggap baik dan yang baik di anggap jahat.
Tidakkah para koruptor itu merasa kasihan dan iba melihat anak-anaknya yang bakal menyandang sebutan buruk sepeninggal dirinya? Akan melekat pada anaknya sebutan ‘anak koruptor’! Para koruptor itu jika mengangkat tangannya tinggi-tinggi berdoa kepada Allâh bahkan sampai meraung dan menangis, namun do’anya tidak dikabulkan oleh Allâh swt.. Bagaimana do’anya bisa dikabulkan, sementara makanan, minuman dan pakaian yang dikenakannya diperoleh dengan cara yang diharamkan yaitu dengan cara korupsi. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?
Perhatikanlah sabda Rasûlullah SAW: “… Kemudian Rasûlullâh SAW mengisahkan tentang seorang yang sedang melakukan perjalan jauh, rambutnya kusut dan kakinya berdebu, ia menadahkan tangannya ke langit, dia berdo’a: “Ya Rabb… Ya Rabb.., Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia tumbuh dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan!” (H.R. Muslim).
Bagaimana hidupnya bisa berkah, anak-anaknya bisa shalih dan shalihah, bila rongga perut mereka diisi dengan hasil korupsi? Tumbuh besar dan berkembang fisiknya dari hasil korupsi Bukankah tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari usaha yang haram? Begitulah sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.” (H.R. Ahmad dan Ad-Darimi).
Tidakkah para koruptor itu takut akan hari kiamat. Saat itu asal-usul harta akan ditanyakan. Apa jawaban yang bakal diberikan ketika ia ditanya tentang hartanya, darimanakah ia memperolehnya? Bisakah ia mengelak dari peradilan Allâh Yang Maha Adil, Yang Maha Mengetahui segala hal, baik disembunikan ataupun dinampakkan? Rasûlullâh SAW bersabda: “Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang jasadnya, untuk apa ia gunakan? Tentang hartanya, darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia menafkahkannya? Dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan?.” (H.R. Turmudzi).
Di dunia dia mungkin masih bisa menyembunyikan dan menutup-nutupi kejahatannya dengan berbagai cara. Tapi, pada hari Kiamat nanti, ia tidak akan mampu menyembunyikannya lagi. Karena pada hari itu, segala sesuatu akan ditampakkan oleh Allâh. Itulah hari taghaabun! Allâh berfirman: “(Ingatlah) hari (dimana) Allâh mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan.” (At-Taghâbun:9).
Kemanakah kalian akan menyelamatkan diri, wahai para koruptor? Sungguh, tidak ada tempat melarikan diri, tidak ada lagi tempat bersembunyi seperti dalam kehidupan dunia sekarang ini! Apakah mereka mengira akan bisa dilepas begitu saja? Sekali-kali tidak! Satu rupiahpun yang mereka korupsi akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat! Firman-Nya: “Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan perkara kecil dan tidak (pula) perkara besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (Al-Kahfi: 49).
Jangan kira, keberhasilan kalian lari dan berkelit dari jeratan hukum buatan manusia di dunia akan terulang lagi di akhirat! Kalian tidak akan pernah bisa lolos. Uang haram hasil kejahatan tindak pidana korupsi mungkin masih sedikit berguna di dunia, tapi tidak di kehidupan akhirat. Simaklah firman Allâh: “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (As-Syu’ara:88-89).
Alangkah malunya sang koruptor itu pada hari kiamat nanti, kedoknya akan tersingkap bak matahari di siang bolong. Manusia akhirnya mengetahui kecurangannya! Pada hari kiamat nanti akan dikibarkan bendera untuk menandakan ia adalah sang koruptor! Nabi SAW bersabda: “Setiap pengkhianat memiliki bendera tanda pengenal di bagian duburnya pada hari Kiamat.” (H.R. Al-Bani).
Barangkali terlintas dalam benak para koruptor itu, aku kumpulkan harta sebanyak-banyaknya meski harus korupsi, nanti harta korupsi itu disedekahkan untuk kebaikan, sehingga impas! Begitu pikirnya! Anggapan seperti ini jelas salah. Sebab Allâh Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Rasûlullâh SAW bersabda: “Shalat tanpa bersuci tidak akan diterima dan sedekah dari hasil korupsi juga tidak diterima.” (H.R. Muslim).
Bahkan dosa tetap dosa! Rasûlullâh SAW bersabda: “Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian ia menyedekahkannya maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbeban atas dirinya.” (H.R. Ibnu Hibban). Sedekahnya itu tidak bernilai apa-apa di sisi Allâh, sementara ia tetap terbebani dosa korupsinya. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk melakukan tindak korupsi. Itu hanyalah waswas dan bisikan setan yang dianggap baik oleh manusia! Setanlah yang menakut-nakutinya dengan kemiskinan lalu menyuruhnya melakukan dosa, yakni korupsi! Allâh berfirman: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan.” (Al-Baqarah: 268).
Namun aneh bin ajaib, para koruptor itu masih bisa tersenyum di hadapan manusia, seolah tidak berbuat dosa? Benarlah sabda Nabi SAW: “Jika engkau tidak punya malu maka lakukanlah sesukamu!.” (H.R. Ibnu Hibban). Apakah budaya malu sudah tidak ada lagi di sini? Para pembaca lebih tahu jawabannya!
Demikian sedikit bahan renungan bagi kita semuanya. Semoga tulisan singkat ini dapat menggugah kesadaran kita sehingga tidak terjebak dalam ajakan setan yang selalu mengintai celah demi menyesatkan anak manusia.