10 BENTUK KEDZALIMAN DALAM TES CPNS (Dimuat Di Koran Kabar Priangan Tanggal 13 Desember 2010)

Tes CPNS yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat pada tanggal 5 Desember 2010 yang lalu merupakan salah satu proses inti dari beberapa tahapan tes CPNS. Kini para peserta tes harap-harap cemas menunggu hasilnya yang menurut informasi dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat akan diumumkan secara bersamaan pada tanggal 14 Desember 2010. Semua pihak berharap seluruh tahapan proses tes CPNS benar-benar dilakukan dengan obyektif dan transparan. Terbebas dari unsur-unsur penyimpangan. Apabila terjadi penyimpangan, maka dapat dikategorikan sebagai sebuah “kedzaliman”.

Arti Dzalim
Secara bahasa, kata dzalim berasal dari kata dzalama yang berarti tidak bercahaya atau gelap. Dari makna dasar ini, dzalim kemudian sering diartikan dengan kebodohan, kemusyrikan, dan kefasikan. Makna lain yang muncul dari imlplikasi kegelapan adalah aniaya, kejahatan, dosa, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Dosa disebut dengan ke-dzalim-an karena membuat hati dan jiwa kita gelap, tidak lagi sanggup menangkap kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu jika kita terlalu banyak berbuat dosa, maka hati kita yang bersifat nurani (bercahaya) akan menjadi rusak atau minimal redup.

Adapun secara istilah, dzalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang seharusnya (wad’u syaiin fii ghairi mahallihi), baik dengan pengurangan, penambahan, atau dengan tidak tepat waktu dan sesuai tempatnya. Dari makna ini kemudian muncul beberapa ungkapan misalnya: aku telah berbuat dzalim kepada tanah dengan mengeruknya, padahal tanah itu tidak disediakan untuk dikeruk. Oleh karena itu dzalim diartikan juga dengan merampas hak yang dimiliki oleh seuatu, bisa orang, tumbuhan, hewan atau lainnya, baik kecil maupun besar atau melewati batas-batas yang digariskan, baik dosa kecil maupun dosa besar. Makna dzalim seperti ini diperlawankan dengan makna adil yang artinya menempatkan sesuatu sesuai tempat yang semestinya. Maka perilaku kafir, musyrik, munafik serta berbagai perilaku dan keyakinan yang menyimpang dan dosa juga adalah dzalim atau bentuk kedzaliman.

Bentuk Kedzaliman dalam Tes CPNS
Jika tahapan proses tes CPNS dilakukan dengan tidak jujur, tidak obyektif, dan tidak transparan, maka akan tampak berbagai bentuk kedzaliman, antara lain:
Pertama, panitia meloloskan peserta untuk ikut tes CPNS meskipun peserta tersebut ada kekurangan dalam berkas-berkasnya (tidak memenuhi syarat). Panitia melakukan itu karena panitia dan peserta ada ‘kongkalikong’, ada kedekatan, atau ada penyuapan dari peserta ke panitia agar berkasnya diloloskan. Dengan kata lain ada kolusi dan nepotisme. Kedzaliman yang lebih keji dalam bentuk pertama ini bahkan bisa jadi peserta yang tidak mengumpulkan berkas-berkas pun memperoleh kartu tanda tes.
Kedua, sebaliknya, beberapa peserta yang dianggap lengkap berkas pendaftarannya justru tidak diloloskan dan tidak diberi kartu tes. Hal ini bisa terjadi manakala ada titipan dari seseorang untuk tidak meloloskan peserta tersebut, atau memang ada kebencian dari panitia terhadap peserta tertentu.
Ketiga, panitia tidak ‘istiqomah’ terhadap jadwal akhir penerimaan berkas pendaftaran. Seharusnya jadwal pendaftaran ditutup pada tanggal 19 Nopember misalnya, tapi panitia masih menerima berkas pendaftaran peserta melebihi tanggal tersebut, lagi-lagi peserta ini diterima pendaftarannya karena ia ‘main mata’ dengan panitia.
Keempat, dalam pelaksanaan tes CPNS, panitia atau pengawas membocorkan soal dan jawaban kepada peserta. Oknum panitia dan pengawas seperti ini bahkan tidak segan-segan untuk menarik biaya tinggi atas penjualan bocoran tersebut. Pun pengawas ketika bertugas mengawasi peserta tes di sebuah ruangan, ia tidak malu untuk memberitahu jawaban kepada peserta yang dianggap dekat atau kerabatnya sendiri.
Kelima, peserta yang tidak hadir mewakilkan kepada ‘joki’ untuk mengerjakan soal-soal tes. Joki ini dibayar dengan biaya mahal, apalagi jika peserta yang tak hadir ini lulus, biayanya pun bisa diganti dengan puluhan juta rupiah.
Keenam, adanya peserta tes yang lulus yang merupakan titipan dari pejabat. Peserta ini sebelumnya mengikuti tes seperti yang lain atau tidak mengikuti tes sama sekali. Kelulusan peserta yang seperti ini bisa dikategorikan sebagai sebuah kedzaliman yang sangat besar. Coba kita bayangkan contoh seperti ini. Formasi guru agama untuk suatu kota atau kabupaten misalnya 6 orang, lalu setelah melalui proses tes, UI (Universitas Indonesia) sebagai rekanan panitia tes CPNS mengumumkan hasilnya dengan meranking peserta tes guru agama yang lulus mulai ranking satu sampai enam, yaitu peserta A, B, C, D, E, dan F. Hasil tes dari UI tersebut kemudian dibawa oleh wakil panitia ke kabupaten/kota masing-masing (jika pengumuman hasil tes diumumkan di luar kabupaten/kota yang bersangkutan). Atau hasil tes itu diserahkan langsung oleh UI kepada panitia di kabupaten/kota. Oleh panitia, karena adanya tekanan dan pesanan dari pejabat tertentu sehingga daya tahan “keistiqomahan” panitia itu jebol, maka enam orang peserta guru agama yang lulus tersebut diotak-atik dan hasilnya adalah: menghilangkan/menghapus peserta E dan F dan menggantinya dengan peserta G dan H yang merupakan peserta titipan (yang rankingnya jauh di bawah peserta A sampai F). Di hari pengumuman hasil tes, terpampanglah di surat kabar daftar nama peserta tes CPNS formasi guru agama yang lulus, yaitu A, B, C, D, G, dan H. Kondisi ini jelas merupakan perbuatan yang sangat dzalim. Kerja keras peserta E dan F dijegal oleh kerja keras ‘titipan’ pejabat. Maka E dan F posisinya sebagai orang yang didzalimi, sedangkan yang memasukkan peserta G dan H adalah orang yang mendzalimi dan ia telah melakukan sebuah penyimpangan yang sangat besar.
Ketujuh, peserta atau orang tua peserta tes siap membayar uang puluhan juta rupiah kepada oknum yang menawarkan kelulusan anaknya, dan jika anaknya benar-benar lulus karena “uang pelicin” tersebut, maka orang yang ‘menyuap dan disuap’ layak dikategorikan sebagai orang yang berbuat dzalim. Padahal Rasul SAW bersabda,”Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap”. (Hadits Riwayat Bukhari Muslim). Seorang yang lulus melalui cara demikian diyakini ketika ia menjadi PNS hidupnya tidak akan tenang, tidak akan tenteram dan nyaman, dalam dirinya selalu tergambar dan terngiang ‘dosa atas perbuatan dzalimnya’, uang upah atau gajinya dipercaya sebagai uang yang tidak akan berkah. Begitupun uang hasil dari penyuapan, akan dinikmati oleh sejumlah ‘oknum’ dengan keadaan uang tersebut menjadi rezeki yang tidak berkah dan tidak mendapat ridha Allah SWT.
Kedelapan, khusus untuk materi setiap item soal-soal tes CPNS. Berdasarkan perbincangan penulis dengan beberapa peserta tes CPNS dan pengalaman penulis mengikuti tes CPNS, tidak ada satu pun materi soal yang diperuntukkan khusus untuk menguji kompetensi sesuai dengan formasi yang dibutuhkan. Materi-materi soal tes bersifat umum, artinya materi soal untuk semua formasi sama pola dan isinya. Padahal untuk mencari seorang calon pegawai negeri sipil yang berkompeten, materi soal tes sebaiknya berisi soal-soal sesuai dengan formasinya masing-masing. Misalnya untuk formasi guru matematika, materi-materi soal seyogyanya tentang pendidikan dan matematika; formasi guru bahasa Inggris, materi soal tentang pendidikan dan bahasa Inggris; formasi perawat, materi soalnya tentang keperawatan; dan lain-lain. Bukankah menempatkan sesuatu pertanyaan dalam materi soal tes CPNS yang tidak sesuai dengan tempat (formasinya) termasuk arti kedzaliman juga?
Kesembilan, termasuk kedzaliman pula jika panitia tidak mengumumkan hasil tes CPNS secara transparan ke publik, bahkan cenderung tertutup, hanya kalangan terbatas saja yang bisa mengetahuinya. Padahal sebagai upaya akuntabilitas proses penerimaan tes CPNS, transparansi pengumuman hasil tes merupakan sebuah keniscayaan.
Kesepuluh, khusus dalam penerimaan CPNS jalur honorer (data base), para pejabat berwenang atau terkait yang merupakan atasan tenaga honorer tersebut, melakukan pemutarbalikkan fakta, misalnya tentang masa kerja bawahannya, yang seharusnya masa kerja 5 tahun, ‘diputarbalikkan/dipalsukan’ menjadi 8 tahun.

Harapan
Harapan penulis, ke-10 kedzaliman di atas hanya ’imajiner’ saja, yang terjadi di negeri ‘entah berantah’, benar-benar tidak terjadi di negara kita tercinta, baik pada saat ini maupun pada saat-saat tes CPNS yang akan datang. Penulis yakin, semua pihak yang mempunyai tingkat kesadaran dan keimanan yang kuat dan mantap, mengharapkan seluruh tahapan tes CPNS dapat berlangsung dengan lancar, jujur, obyektif, transparan, aman, dan sukses. Semua pihak mesti merasa takut akan sabda Nabi Muhammad SAW,”Takutlah kepada do’a orang yang didzalimi, sebab antara dia dan Allah tidak ada penghalang (hijab)’. Hadits ini mengingatkan kita untuk tidak mendzalimi orang lain, berhati-hatilah terhadap do’a orang yang didzalimi, sebab do’a orang yang didzalimi itu akan dikabulkan langsung oleh Allah SWT.

Akhirnya, kepada semua peserta tes CPNS, usaha (ikhtiar) sudah dilakukan secara maksimal, kini tinggal menunggu hasilnya. Sambil menunggu hasil, teruslah berdo’a, hadapilah hasil tes CPNS dengan tawakal kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s