KEIRONIAN BERBUSANA (Dimuat di Koran Kabar Priangan, 24-12-2010)

Betapa miris, prihatin, memilukan, dan menyedihkan ketika penulis membaca berita di Kabar Priangan Edisi Hari Sabtu, 18 Desember 2010, halaman 3, tentang Mahasiswi Pariwisata Unsil yang berpenampilan seksi dengan memakai seragam rok mini. Bukan hanya mahasiswi Unsil saja sebetulnya yang berpenampilan seksi, di perguruan tinggi lainpun di Indonesia, baik negeri maupun swasta, tidak sedikit dijumpai para mahasiswi yang berpenampilan seperti itu. Bahkan ketika di luar kampus, bisa jadi kita pernah melihat perempuan-perempuan yang berpenampilan dengan dandadan pakaian ketat, transparan, dan mengundang syahwat kaum Adam. Mereka berkelakuan membuka paha tinggi-tinggi, sekitar wilayah dada dan ketiak kelihatan, dada dan ‘bujal’ diumbar, dan lain sebagainya. Patut disayangkan jika hal itu dilakukan oleh mahasiswi yang notabene merupakan ‘agent of change’, agen perubahan bagi bangsa, orang-orang yang terdidik (educated students), tunas-tunas bangsa yang akan memberikan pencerahan bagi masyarakat, akan tetapi busananya seperti itu.
Di sisi lain ada berita berbeda yang menggembirakan dan melegakan hati pada edisi Hari Kamis, 16 Desember 2010, halaman 1, yakni berita tentang terpilihnya Kota Tasikmalaya sebagai sentra busana muslim Indonesia berdasarkan penilaian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang bekerjasama dengan Indonesia Islamic Fashion Consortium. Berita ini mempunyai implikasi implisit yang positif, bahwa dengan dipilihnya Kota Tasik sebagai sentra busana muslim, maka akan muncul dan tumbuh subur sentra-sentra pembuatan dan penjualan busana muslim. Dengan banyaknya sentra itu, warga Kota Tasikmalaya atau warga luar kota yang tinggal dan atau sedang menuntut ilmu serta bekerja di Kota Tasikmalaya, termasuk para mahasiswi, diharapkan mempunyai kemauan yang kuat untuk membeli dan memakai busana muslim, sehingga tidak dijumpai ‘pemandangan’ seperti yang terjadi pada mahasiswi di atas.
Jika ditelaah secara mendalam, fakta dalam berita pertama mengindikasikan sebuah keironian, sebuah kenyataan yang paradok, bertentangan dengan julukan Kota Tasik sebagai ‘Kota Santri’, bahkan sangat berlawanan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 tahun 2009 tentang Pembangunan Tata Nilai Kehidupan Kemasyarakatan yang Berlandaskan pada Ajaran Agama Islam dan Norma-Norma Sosial Masyarakat Kota Tasikmalaya, terutama dalam Bab IV Bagian Kedelapan pasal 11 ayat 1 bahwa setiap muslim yang telah mencapai usia baligh wajib berpakaian yang menutupi batasan aurat sesuai dengan ajaran agama Islam.

Berbusana yang Semestinya
Dalam ajaran agama Islam, ada beberapa ketentuan tentang penggunaan busana muslim yang semestinya dipatuhi dan dilaksanakan, antara lain:
Pertama, berdo’a ketika berpakaian. Ketika berpakaian kita disunahkan untuk membaca do’a: ”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan sesuatu yang ada di pakaian ini. Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan pakaian ini dan kejahatan sesuatu yang ada di pakaian ini. (H.R. Ibnu Sanni).
Kedua, menutupi aurat (seluruh badan), kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Sabda Rasul SAW: “Hai Asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah sampai umur/dewasa, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini. Rasulullah berkata sambil menunjukkan kepada muka dan telapak tangan hingga pergelangannya sendiri.” (HR. Abu Dawud dari Aisyah). Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasul SAW bersabda: “Bahwa anak perempuan, apabila cukup umurnya maka tidak boleh dilihat akan dia, melainkan mukaknya dan dua tangannya sampai pergelangan.” Perlu diingat bahwa pemakaian kerudung harus sampai menutup dada. Hal ini disebutkan secara gamblang dalam surat An-Nur: 31, “… dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” Dengan demikian aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan kedua telapak tangannya. Sedangkan untuk aurat laki-laki adalah sebagaimana sabda Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Daruqutni dan Baihaqi: “Aurat laki-laki itu antara pusatnya dan lututnya.”
Ketiga, bahan pakaian tidak terlampau tipis sehingga dapat menggambarkan bagian badan yang di dalam. Muslim meriwayatkan sebuah hadits, berasal dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul SAW telah bersabda: “Di antara penghuni neraka ialah wanita-wanita yang berpakaian (tetapi pada hakikatnya) mereka telanjang, gemar menggiurkan dan memikat (laki-laki). Mereka tidak masuk surga dan tidak dapat mencium baunya”. Yang dimaksud berpakaian tetapi pada hakikatnya telanjang adalah pakaian wanita yang tidak sesuai fungsinya sebagai penutup aurat, karena tipisnya sehingga bagian-bagian tubuh yang berada di balik pakaian itu tampak gambarnya. Pakaian tersebut terlalu minim, tembus pandang, ketat. Pada suatu hari beberapa orang wanita Bani Tamim datang menemui Ummul Mu’minin Aisyah. Mereka berpakaian demikian tipis sehingga isteri Rasulullah SAW itu menegur: “Jika kalian wanita beriman, ketahuilah bahwa itu bukan pakaian wanita beriman.” Pada kesempatan yang lain lagi seorang pengantin baru bertamu kepada isteri Rasul SAW dengan kerudung sangat tipis lagi jarang. Melihat itu Siti Aisyah berkata kepada orang yang mengantar kedatangan pengantin tersebut: “Wanita yang mengimani Surat An-Nur ayat 31 tidak akan memakai kerudung seperti itu.” Demikian menurut hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, berasal dari Abu Hurairah.
Keempat, meskipun pakaian itu tidak tipis dan tidak jarang, hendaknya potongan dan bentuknya tidak menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu sehingga dapat membangkitkan naluri lawan jenisnya. Cara berpakain demikian itu jelas dilarang dan tidak diperbolehkan dalam Islam. Cara berpakaian seperti itu berasal dari gagasan-gagasan desainer-desainer Yahudi yang disebarkan kepada seluruh dunia lewat peradaban Barat. Kaum wanita yang berbusana semacam itu adalah termasuk dalam golongan mereka yang berpakaian tetapi pada hakikatnya telanjang. Cara mereka berpakaian benar-benar sangat merangsang dan menggiurkan lawan jenisnya, baik karena tipis dan transparan bahan yang dibuatnya maupun karena potongan atau bentuknya.
Kelima, hendaknya pakaian yang dipakai wanita muslimah tidak sama dengan jenis pakaian yang lazim dipakai oleh kaum pria. Dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan Bukhari, bahwa: “Rasulullah SAW mengutuk laki-laki yang berpakaian seperti wanita dan wanita berpakaian seperti laki-laki”. Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.”
Keenam, tidak menyerupai pakaian wanita kafir. Rasul SAW bersabda: “Siapa saja yang meniru-niru perbuatan suatu kaum, berarti dia telah menjadi pengikutnya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Ketujuh, dipakai bukan dengan maksud memamerkannya/sombong. Abu Sa’id Al-Khudriy berkata, Rasulullah SAW bersabda, “…Siapa yang menurunkan sarung di bawah mata kaki karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya.” (H.R. Abu Da wud). Dalam hadits Bukhari Rasul SAW bersabda: “Sarung yang dipakai hingga bawah mata kaki, maka yang demikian di dalam neraka.” Sesungguhnya hadits ini tidak melarang kita memakai kain yang menutupi mata kaki, tetapi melarang berpakaian dengan sombong. Kita sadari bahwa pakaian sering membawa kepada kesombongan. Betapa banyak orang menghabiskan uang untuk membeli pakaian yang bermerek demi mengejar status sosial. Tapi pernyataan ini jangan dipahami seolah kita dilarang berpakaian bermerek. Kita boleh berpakaian mahal dan bermerek kalau niatnya bukan untuk kesombongan. Kalau kita berpakaian yang tidak menutupi mata kaki, tetapi melakukannya dengan kesombongan, hal seperti ini juga termasuk yang dilarang. Sebaliknya, kita memakai pakaian yang menutupi mata kaki, tapi tidak bermuatan kesombongan, hal ini tidak dilarang. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Rasul SAW bersabda: “Allah tidak akan melihat pada hari kiamat terhadap seseorang yang menarik sarungnya untuk kesombongan.”
Kedelapan, pakaian harus bersih dan rapi. Dalam surat Al-Baqarah ayat 222 Allah SWT berfirman: “…..Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersih/menyucikan diri”.
Kesembilan, para lelaki muslim, haram hukumnya menggunakan sutra dan emas. Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutera) haram atas lelaki ummatku.” (H.R.Abu Daud). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Dibolehkan emas dan sutera untuk para wanita dari ummatku dan diharamkan untuk mereka yang laki-laki.” Dalam hadist Bukhari-Muslim, Rasul SAW bersabda: “Janganlah kamu (laki-laki) memakai sutera, maka sesungguhnya mereka yang memakainya di dunia tidak akan memakainya di akhirat.” Menurut Al-Barra, yang diriwayatkan Bukhari: “Beliau (Rasulullah SAW) melarang kami memakai bejana perak, memakai cincin emas dan memakai berbagai macam sutera.”

Harapan
Penulis berharap, dengan disebutkannya beberapa ketentuan tentang busana muslim dan muslimah dan dikuatkan dengan adanya Perda Nomor 12 Tahun 2009, semua warga dapat memahami, menghayati, dan mengamalkannya, sehingga pemandangan-pemandangan manusia yang menutup aurat akan selalu menghiasi dan dijumpai di kota kita yang tercinta ini. Semua pihak secara bersama-sama melakukan kontrol diri dan sosial, berupaya untuk selalu mengajak kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Semoga Allah SWT memberi hidayah kepada kita dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s