PERGESERAN PERAN IBU DARI PERAN YANG SESUNGGUHNYA (Menyambut Hari Ibu yang Ke-82 Tahun 2010)

ribuan kilo jalan yang engkau tempuh
lewati rintang untuk aku, anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas..ibu..ibu.. (Iwan Fals)

Syair di atas bercerita tentang betapa seorang ibu akan berbuat apapun demi anaknya. Dari waktu ke waktu pengorbanan dan perjuangan ibu tidak akan terhitung jumlahnya, ia berjasa besar dalam merawat anaknya, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, mengasah, mengasih, dan mengasuhnya. Maka sangatlah tepat jika kita tak henti-hentinya membicarakan tentang peran penting seorang ibu, apalagi bertepatan dengan Peringatan Hari Ibu yang ke-82 pada tanggal 22 Desember tahun 2010 yang lalu.

Hari Ibu di Indonesia
Hari Ibu adalah hari peringatan/perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya. Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, acara kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Di negara kita, sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan lain-lain. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Hari Ibu (Mother’s Day) di Negara Lain
Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Pergeseran Peran Ibu di Jaman Modern
Perkembangan jaman terbukti berimplikasi terhadap bergesernya peran ibu. Jaman dahulu fungsi scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu) masih sangat dominan. Proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia ini seiring dengan kemajuan jaman berubah menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah) menggantikan peran orang tua. Apalagi ketika seorang ibu menjadi wanita yang bekerja di luar rumah (wanita karir), maka pola dan model pengasuhan pun akan berubah. Tidak sedikit ibu-ibu yang menjadi wanita karir malah menghabiskan waktu di tempat kerja daripada mendidik dan mengasuh anak. Mereka terlena dengan ‘buaian dan godaan’ tuntutan jaman dan ‘rayuan’ materi dunia, sementara anak-anaknya ditelantarkan dan tidak dididik dengan baik. Jika kondisi ini terus berlanjut maka pendidikan dan perkembangan jiwa anak yang kurang mendapatkan pengasuhan yang baik dari seorang ibu akan terabaikan sehingga kepribadian anak yang baik tidak tercapai. Biasanya perilaku anak ini menjadi buruk, baik di keluarga maupun masyarakat dan kalau sudah begini tentu bukan sepenuhnya salah si anak. Padahal pendidikan yang diberikan ibulah yang merupakan kunci utama dalam membangun keberhasilan anaknya.
Ada sebuah kisah menarik dari negeri Jepang. Seorang pendidik Amerika, Tony Dickensheets, selama beberapa bulan di tahun 1996 hidup berpindah-pindah di keluarga Jepang dan mengamati. Penelitiannya menyimpulkan, unsur kunci dari economic miracle (keajaiban ekonomi) Jepang adalah Kyoiku Mama atau education mama (pendidikan yang diberikan oleh ibu). Lalu pada tanggal 7 Juli 2007, Daoed Joesoef menceritakan kisahnya ketika berkunjung ke negeri Sakura, Jepang. Suatu hari ia berjalan-jalan di sebuah toko buku, pada saat itu ia melihat seorang ibu dan anaknya yang SD sedang sibuk memilih-milih buku. Daoed menyapa, si ibu kemudian datang mendekat lalu menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sembari mengucapkan sesuatu yang ditiru oleh anak kecil itu. Setelah mengetahui ia bukan hanya orang asing tetapi juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (era Soeharto), makin banyaklah kemudian anak-anak yang meminta Daoed menanda-tangani buku yang baru mereka beli. Sejak kecil anak-anak Jepang diajarkan menyukai buku dan menghormati budaya. Hal berbeda yang patut kita tiru dari ibu-ibu di Jepang adalah anggapan bahwa seorang ibu seharusnya berpendidikan dan berpengetahuan agar mampu mengasuh sekaligus membesarkan putra-putri dengan baik dan benar. Mereka menjadi ibu rumah tangga yang berhasil. Tony Dickensheets, mengatakan ini sebagai, a pure Japanese phenomenon (fenomena bangsa Jepang yang sesungguhnya).
Kondisi berbeda ditunjukkan oleh sebagian ibu-ibu bangsa kita. Ada yang beranggapan bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga atau ibu untuk anak-anaknya sering dianggap profesi yang remeh temeh, anggapan ibu rumah tangga yang hanya bergelut dengan sumur, kasur, dan dapur kadang membuat sebagian ibu rumah tangga seringkali berasa minder jika ditanya mengenai pekerjaan dengan mengatakan “akh saya cuma ibu rumah tangga”. Apalagi jika latar belakang Ibu Rumah Tangga tersebut seorang yang berpendidikan tinggi, dan dianggap punya potensi untuk berkarir sehingga kemudian banyak komentar kepada wanita yang memilih mengabdikan hidupnya untuk keluarga ini dengan komentar yang menyayangkan, misalnya “Sayang ya sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi Ibu Rumah Tangga” Tentu ungkapan tersebut bukan berarti menafikan atau merendahkan wanita yang berkarir yang sekaligus sebagai Ibu Rumah Tangga, kedua pilihan itu tak salah karena yang terpenting dalam berkarir atau berumahtangga intinya adalah bagaimana kemudian berperan menjadi seorang istri dari seorang suami dan Ibu yang baik bagi anak-anak. Bukankah ada ungkapan bahwa “dibalik kesuksesan seorang laki-laki adalah tergantung siapa wanita dibelakangnya”, ya wanita itu, bisa jadi Ibu bagi seorang anak atau istri bagi seorang suami.

Meneguhkan Peran Ibu yang Sesungguhnya
Peran ibu yang sesungguhnya secara kodrati adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Mampu memfungsikan diri sebagai ibu yang baik dalam mendidik anak dan mendampingi suaminya. Seorang ibu yang mampu memerankan tokoh sentral dalam mencetak generasi yang kuat mental dan tegak keyakinannya (generasi rabbani). Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan keluarga sangat ditentukan oleh peran seorang ibu. Jika ibu adalah seorang wanita yang baik, akan baiklah kondisi keluarga. Sebaliknya, apabila ibu adalah wanita yang bersikap buruk, hancurlah keluarga. Terlebih lagi dalam hadits Rasul SAW, ibu disebut tiga kali dibandingkan ayah yang satu kali ketika ditanyakan siapa orang yang paling layak dihormati.
Ibu adalah sosok yang di bawah telapak kakinya ada ‘surga’, ia merupakan guru utama di ‘sekolah’ pertama untuk anak-anaknya, tempat dimana anak mendapat asuhan dan diberi pendidikan sejak dalam kandungan. Ibu tidak perlu mendidik anak dengan cara menghardik, tidak usah mengajar dengan cara menghajar, tidak patut membimbing dengan cara ‘nampiling’, anak mesti dirangkul bukan dipukul. Jika seorang ibu dapat memahami dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, dengan segala tuntunan dan teladan pada anak, Insya Allah akan terlahirlah generasi yang salih, unggul dan mumpuni, mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kehidupannya kelak.
Terakhir, wahai para ibu, tirulah ibu sepanjang jaman, seperti: Siti Hajar, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Siti Asiah, Siti Maryam. Mereka adalah sosok ibu yang patut untuk dicontoh segala perilakunya dan mereka menjadi ibu teladan bagi umat.

One thought on “PERGESERAN PERAN IBU DARI PERAN YANG SESUNGGUHNYA (Menyambut Hari Ibu yang Ke-82 Tahun 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s