GEMPA, KEPANIKAN, DAN HARI KIAMAT

Bumi kembali bergetar. Lagi-lagi gempa tektonik terjadi di Cilacap. Setelah tanggal 4 April 2011 lalu yang berkekuatan 7.1 skala richter, kali ini gempa bumi berkekuatan 6,3 skala richter berpusat di titik koordinat 8.60 LS, 108.36 BT, 120 Km Barat Daya Kabupaten Cilacap Jawa Tengah dengan kedalaman gempa mencapai 24 Km. Gempa yang terjadi pada hari Selasa, 26 April 2011 pukul 13.40 WIB tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang parah dan tidak berpotensi tsunami, sebab kekuatan gempanya hanya 6,3 skala richter. Berbeda dengan gempa Jepang pada tanggal 11 Maret 2011 lalu berkekuatan 8,8 skala richter yang dibarengi dengan tsunami meluluhlantakkan bagian Timur negara Jepang.
Ada satu fenomena yang lumrah manakala terjadi gempa, baik gempa tektonik maupun gempa vulkanik. Fenomena itu adalah paniknya manusia ketika mereka merasakan adanya getaran gempa. Kekuatan gempa berapapun jika mereka rasakan, terlebih bila kekuatannya tinggi, sudah dapat dipastikan akan menimbulkan kepanikan manusia. C.P. Chaplin (1999: 350), dalam bukunya Kamus Lengkap Psikologi, mengartikan panik dengan satu ketakutan yang besar sekali, sering disertai dengan tingkah laku yang nekad, sembrono, atau ugal-ugalan, atau tingkah laku yang sangat keliru.
Sejalan dengan makna di atas, memang faktanya gempa telah memunculkan sebuah ketakutan yang luar biasa. Jika ketakutan itu tidak disertai dengan ketenangan dan kewaspadaan, terkadang menimbulkan kerugian bagi manusia. Manusia bisa terinjak, terdorong, terlempar, bahkan bisa saja karena saking paniknya, manusia tidak secara sadar melompat dari gedung yang tinggi sehingga ia tewas. Ketakutan manusia akibat adanya gempa merupakan sikap yang wajar. Manusia yang sedang berada dalam sebuah bangunan atau ruangan seperti kantor, rumah, sekolah, mall, dan lain-lain, berhamburan keluar di saat gempa mengguncang. Mereka takut bangunan runtuh dan menimpa dirinya sehingga nyawanya melayang. Apalagi jika manusia sedang berada di lantai 2, 3, atau di atasnya, ketakutan itu akan semakin menjadi-jadi. Maka tak berlebihan dan memang sepatutnya jika ada gempa manusia segera mencari lahan, halaman, lapangan, atau tempat yang terbuka dan luas serta jauh dari bangunan dan pepohonan supaya terhindar dari ancaman runtuhnya bangunan dan pepohonan itu. Disinilah sebenarnya terdapat pelajaran penting bahwa upaya manusia dalam menghindari dari efek gempa menjadi pertanda akan betapa sangat berharganya nilai nyawa bagi manusia.Gempa yang terjadi pada masa lalu memberi gambaran pada kita bahwa tidak sedikit manusia yang meninggal ketika mereka terlambat menyelamatkan diri dari ruangan ketika ada gempa. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan nyawa meregang ketika sebuah bangunan runtuh akibat gempa.
Penulis tak mampu membayangkan bagaimana kepanikan manusia jika gempa itu terjadi di saat hari kiamat. Tempo hari saja ketika bumi berguncang dengan tidak begitu dahsyat, manusia sangat panik, apalagi nanti jika kiamat tiba bumi berguncang dengan sedahsyat-dahsyatnya. Dalam Surat Al-Waqi’ah ayat 1-6 Allah SWT berfirman: “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya, (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” Ditambah dalam Surat Al-Insyiqaq ayat 1-4: “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” Lalu dalam Surat Al-Infithar ayat 1-4: “Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” Semakin diperjelas oleh Surat At-Takwir ayat 1-7: “Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).”
Dalam hadits juga disebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda: “Diantara dua kali tiupan sangkakala itu jarak empat puluh tahun (Tiupan untuk mematikan dan membangkitkan semula). Kemudian Allah SWT menurunkan hujan air bagaikan mani orang lelaki, maka timbullah orang-orang mati bagaikan timbulnya tanaman (sayur-sayuran).” Abul-Laits juga telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda: “Ketika Allah SWT telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah SWT menjadikan sangkakala dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, maka ia meletakkannya dimulutnya melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintahkan.” Saya bertanya: “Ya Rasullullah, apakah shur (sangkakala) itu?” Jawab Rasullullah s.a.w.: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana besarnya?” Rasullullah s.a.w. menjawab: “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutuskanku sebagai Nabi s.a.w. besar bulatannya itu seluas langit dengan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali yaitu pertama Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan), Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan) dan Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”
Menurut riwayat Ka’ab hanya dua kali tiupan, yaitu mematikan dan membangkitkan, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat An-Naml ayat 87: “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” Dan pada saat itu tergoncangnya bumi, dan manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya dan yang meneteki lupa terhadap bayinya, dan anak-anak segera beruban dan syaitan-syaitan laknatullah berlarian. Maka keadaan itu berlaku beberapa lama kemudian Allah SWT menyuruh Israfil meniup sangkakala kedua. Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 68: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal baik sebagai persiapan bekal di akhirat kelak. Kita tidak akan tahu kapan kematian akan menjemput. Apakah kematian itu akan tiba manakala kita panik jika ada gempa atau tidak, manusia tidak ada yang mengetahuinya secara pasti. Hanya Allah SWT-lah yang menentukannya. Tidaklah kepanikan dalam menghadapi suatu kejadian menyebabkan kita lupa kepada Allah SWT. Justru dengan adanya berbagai bencana yang terjadi di muka bumi menyebabkan manusia semakin beriman dan bertakwa kepada-Nya. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s