LABEL BIASA, MUTU LUAR BIASA

Gonjang-ganjing tentang perlunya distop pendirian sekolah berlabel RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) yang baru cukup menggelitik penulis. Di satu sisi proyek RSBI berasal Kementerian Pendidikan Nasional, namun di sisi lain justru pejabat yang ada di Kementerian Pendidikan Nasional sendiri, dalam hal ini Pusat Penelitian dan Kebijakan Balitbang Kemendiknas, yang merekomendasikan kepada Mendiknas M. Nuh untuk menghentikan kemunculan RSBI yang baru (Lihat Koran Radar Tasikmalaya, edisi tgl 15 dan 16 Maret 2011). Namun demikian penulis tidak akan menyoroti tentang ‘gonjang-ganjing’ itu, biarlah pihak yang berkepentingan, dalam hal ini Kemendiknas, yang mencari solusi terbaik dari hasil evaluasi Pusat Penelitian dan Kebijakan Balitbang Kemendiknas. Dalam kesempatan ini, penulis hanya mencoba mengkaji secara sederhana tentang tidak terlalu pentingnya ‘label’ sekolah, yang justru lebih penting dan strategis adalah bagaimana setiap sekolah mampu menghasilkan lulusan yang bermutu tanpa memandang ‘label’ sekolah yang bersangkutan.
Pada awalnya sekolah didirikan sebagai pelengkap dan pembantu pendidikan di lingkungan keluarga. Sekolah dibutuhkan karena orangtua sibuk bekerja, terbatas dalam ilmu mendidik, sempit dalam waktu luang, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, kini sekolah menjelma seakan-akan menjadi lembaga pendidikan ‘utama’ bagi anak. Di zaman sekarang, sekolah, baik dalam jalur pendidikan formal, informal, maupun non formal, tumbuh secara pesat. Sekolah berlomba-lomba mengeksistensikan diri sebagai sekolah yang mampu menarik minat orangtua, sehingga orangtua merasa tertarik untuk menitipkan anaknya ke sekolah tersebut. Label sekolah pun bermunculan, seperti: negeri, swasta, SSN (Sekolah Standar Nasional), RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional), SBI (Sekolah Berstandar Internasional), dan lain-lain. Apapun labelnya, yang jelas, pada setiap sekolah diharuskan mempunyai fasilitas atau sarana dan prasana yang dapat mendukung berlangsungnya proses pembelajaran. Dari label dan ketersediaan fasilitas yang ada pada sebuah sekolah, maka dalam pandangan penulis, timbul istilah sekolah ‘biasa’ dan sekolah yang ‘tidak biasa’. Sekolah ‘biasa’ salah satunya selalu diidentikan dengan sekolah yang serba miskin fasilitas; sedangkan sekolah yang ‘tidak biasa’ dimaknai sebagai sekolah yang serba kaya fasilitas, mempunyai sarana dan prasarana yang serba lengkap, bahkan terkadang terkesan ‘wah’ dan ‘mewah’.
Penulis mengacungkan jempol pada sekolah yang termasuk kategori ‘biasa’ tapi lulusannya mempunyai kualitas yang luar biasa. Sekolah yang minim fasilitas, namun output-nya berkualitas. Sekolah yang arealnya tidak terlalu luas, tapi semua penghuninya mempunyai hati yang ikhlas dalam mendidik anak. Sekolah yang serba sederhana, namun lulusannya mampu ‘melanglangbuana’. Sekolah yang anak didiknya pada saat masuk punya kemampuan ‘sejengkal’, tapi ketika tamat punya kemampuan ‘ribuan kilometer’. Sekolah yang anak didiknya ketika masuk punya otak ‘sampah’, tapi ketika tamat berubah menjadi otak ‘berlian’. Bisa jadi di saat masuk sekolah kepribadiannya laksana ‘cadas’, namun ketika tamat sekolah berubah drastis menjadi kepribadian ‘emas’.
Membentuk anak didik yang unggul dan berkualitas tidak selamanya tergantung pada ketersediaan fasilitas yang lengkap. Dengan fasilitas yang serba apa adanya sekolah mampu menciptakan anak didik yang sukses. Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan para pengelola dan pendidik dalam membentuk anak didik yang cerdas IQ, EQ, dan SQ. Keterbatasan menjadi pemicu (trigger) untuk membuktikan bahwa kekurangan itu tidak menjadi penghalang dalam mencetak generasi unggul dan bermutu. Biarlah ‘modal’ minimal, tetapi hasil maksimal. Biarlah sekolah berlabel biasa, tetapi mutu lulusannya luar biasa. Eksistensi sekolah bersifat ‘lokal’ tapi anak didiknya ‘go internasional’. Act locally, think globally. Bisa jadi letak sekolah berada di kampung atau di pinggiran kota yang jauh dari hiruk pikuk kemajuan teknologi, tetapi peserta didiknya pada mumpuni.
Lain halnya dengan sekolah yang berfasilitas lengkap. Sangatlah beruntung bagi sekolah itu jika peserta didiknya memiliki kualitas dan berdaya saing tinggi. Berarti ketersediaan fasilitas berbanding lurus dengan kualitas. Akan tetapi sebaliknya akan sangat rugi jika fasilitas yang lengkap tidak berdampak apa-apa terhadap kualitas peserta didik. Peserta didik kurang kreatif, tidak ada inovatif, tidak kompetitif, padahal sarana dan prasarana yang ada sangat komplit. Hal ini bermakna bahwa fasilitas yang serba lengkap tidak berbanding lurus dengan perolehan kualitas peserta didik. Oleh karena itu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang memiliki fasilitas lengkap untuk membuktikan bahwa kelengkapan fasilitas bisa berefek positif terhadap tercapainya tujuan pendidikan.
Label sekolah biasa atau tidak biasa, negeri atau swasta, SSN atau bukan SSN, RSBI atau bukan RSBI, tidak terlalu perlu ditonjolkan. Yang harus ditonjolkan dan diperhatikan oleh setiap pengelola dan pendidik pada sebuah lembaga pendidikan adalah bagaimana sekolah bisa mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana yang terdapat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, Bab II Pasal 3: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Kini saatnya marilah kita sama-sama bertanya pada diri masing-masing,”Sudahkah sekolah kita membentuk peserta didik yang berwatak dan beradab? Menciptakan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab?”Kalau jawabannya sudah, mari kita pertahankan dan tingkatkan. Akan tetapi kalau jawabannya belum, mari kita singsingkan lengan, kencangkan otot pinggang, segera berbuat dan bertindak. Kita tidak ingin disebut pengelola dan pendidik “NATO” alias No Action Talk Only. Hanya banyak bicara tidak ada kerja. Jadikan diri kita Talk less Do more, Sedikit bicara banyak bekerja. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s