PEMBUNUHAN DAN DENDAM KESUMAT

Sungguh kejam dan mengerikan. Itulah kira-kira respon penulis ketika membaca berita tentang pembunuhan yang terjadi di Kota Tasikmalaya dan Garut pada Harian Pagi Radar Tasikmalaya edisi 13 Juni 2011. Berita tersebut manambah daftar panjang berita-berita tentang pembunuhan yang dimuat di koran yang sama pada waktu-waktu sebelumnya. Nyawa yang diciptakan Allah SWT dengan nilai yang sangat berharga, dihilangkan begitu saja melalui pembunuhan. Salah satu tujuan agama (Islam) yang diturunkan ke bumi sebagai agama yang menjaga jiwa manusia, betapa sangat tidak diperhatikan dan tidak dipahami oleh para pelaku pembunuhan. Padahal Islam secara jelas dan tegas melarang manusia untuk melakukan pembunuhan, sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Al-An’am ayat 151 dan Al-Isra ayat 33: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) (Al-An’am: 151). “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Al-Isra: 33).

Membunuh seorang manusia seakan-akan membunuh manusia seluruhnya. Firman-Nya dalam Surat Al-Maidah ayat 32: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” Salah satu penyebab atau motif terjadinya banyak kasus pembunuhan adalah karena dalam diri pelaku mempunyai rasa dendam yang kesumat, sehingga ia ingin membalasnya dengan cara membunuh.

Dalam bahasa Arab, dendam disebut dengan hiqid, yang menurut bahasa artinya rasa ingin melakukan pembalasan. Sedangkan menurut istilah dendam adalah perasaan permusuhan dalam hati dan menanti-nanti waktu yang tepat untuk melepaskannya, menunggu kesempatan yang terbaik untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang dibencinya. Dendam merupakan suatu perasaan yang lahir dari perasaan benci atau marah, seringkali dipendam secara rahasia oleh seseorang individu. Dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 32 Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.”

Dendam dapat merusak tali silaturahmi dan persaudaraan umat Islam, serta hati pelakunya menjadi kotor. Oleh karena itu munculnya sifat dendam harus dicegah dan tidak boleh ada dalam diri manusia. Mencegah adanya kebencian dan permusuhan merupakan ibadah yang mulia dan termasuk utama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?”. Sahabat menjawab, “Tentu mau”. Nabi SAW bersabda: “Yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur, yakni perusak agama”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Daya tahan iman yang kuat dan sikap selalu ingat kepada Allah SWT akan membersihkan hati dari sifat dendam. Dalam dirinya terdapat sifat pema’af pada orang lain. Ia dengan mudah mema’afkan orang lain yang melakukan kesalahan padanya. Ia selalu meresapi Firman-Nya Surat Ali-Imran ayat 159: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” Tidak akan ada  rasa benci dan marah yang tidak terkendali dalam hatinya. Menganggap orang lain seperti saudaranya. Kalaupun ada orang lain yang saling dendam, ia berusaha untuk mendamaikannya. Ia teringat terus akan Firman-Nya dalam surat Al-Hujurat ayat 10: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s