EVALUASI

E V A L U A S I
Oleh:
Ilam Maolani

A. Pengertian Evaluasi
Secara bahasa, evaluasi berasal dari bahasa Inggris “Evaluation”, artinya: penilaian terhadap sesuatu. Witherington secara singkat merumuskan bahwa “an evaluation is a declaration that something has or does not have values”. Kalau begitu, evaluasi dapat diberlakukan pada bidang yang amat luas. Arti umum tersebut ialah penilaian, dan kata itu dapat digunakan bagi maksud hampir segala sesuatu (Ahmad Tafsir, 1992: 39-40). Bila penilaian digunakan dalam dunia pendidikan, maka penilaian pendidikan berarti suatu tindakan untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan. Dalam SK Dirjen Mendikdasmen No. 12/C/Kep/TU/2008, tanggal 12 Februari 2008, tentang Panduan Penyusunan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik SMA Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dinyatakan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan (menganalisis dan menafsirkan) data tentang proses dan hasil belajar peserta didik, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam menentukan tingkat pencapaian hasil belajar peserta didik.
Penilaian pendidikan merupakan mata rantai komponen dalam pengolahan pendidikan. Komponen ini mencakup penilaian terhadap proses pembelajaran di sekolah, sasarannya meliputi: siswa, kurikulum, guru dan tenaga kependidikan lainnya, sarana dan prasarana, administrasi, serta keadaan umum lingkungan sekolah.
Adapun secara istilah, berikut ini dikemukakan pendapat dua tokoh/ahli pendidikan, antara lain;
1. Wayan S mendefinisikan evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai. Konsepsi ini memberikan gambaran bahwa dalam evaluasi terdapat kegiatan menentukan derajat keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar yang ditentukan dalam bentuk nilai. Nilai tersebut bias berskala kuantitatif atau kualitatif.
2. Rochman Natawidjaja mengartikan evaluasi sebagai suatu proses yang sistematis untuk menjabarkan, mendapatkan dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan sehingga kita dapat memilih alternatif keputusan secara tepat dalam bidang pendidikan (Hapidin, 1995: 73).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah usaha mengumpulkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses belajar (kegiatan dan kemajuan belajar) dan hasil belajar siswa yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya. Atau dapat pula evaluasi diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sistematis oleh pendidik dalam rangka mendapatkan informasi tentang kemajuan belajar anak didiknya, yang dilakukan dalam satu kesatuan waktu tertentu dan terus menerus, yang kemudian akan ditentukan langkah tindakan selanjutnya.

B. Penilaian dan Pengukuran
Ada dua istilah yang hampir sama tetapi berbeda, yaitu: “penilaian” dan “pengukuran”, Pengukuran lebih terarah pada tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas sesuatu, sedangkan penilaian menentukan kualitas sesuatu.
Walaupun berbeda, kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan karena keduanya sangat berhubungan erat. Pelaksanaan penilaian terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran, sebaliknya pengukuran-pengukuran tersebut tidak akan berarti bila tidak akan dihubungkan dengan penilaian. Misalnya: Ahmad memperoleh skor mentah sebesar 80, skor tersebut disebut pengukuran, kemudian berdasarkan kriteria tertentu skor 80 yang diperoleh Ahmad termasuk kategori baik, maka Ahmad mendapat nilai belajar kategori baik, dan inilah yang disebut penilaian.
Baik untuk pengukuran maupun untuk penilaian, yang lebih popular digunakan di dunia pendidikan adalah penilaian atau evaluasi. Untuk menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan tindakan penilaian, karena pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh sebab itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan penilaian hasil belajar.
Namun menurut Ahmad Tafsir (1992: 40), ada tiga istilah yang kadang-kadang diartikan sama dalam peristilahan penilaian, yaitu istilah test, measurement (pengukuran), dan evaluation. Test atau testing, artinya yang umum ialah menggunakan tes. Itu dapat berarti mentes kekuatan sesuatu benda, dan dapat juga berarti mentes kemampuan sebuah kelas dalam sesuatu bidang studi, dan dapat juga berarti mentes tingkat kecerdasan seseorang, kesehatannya, serta kemampuan-kemampuannya yang tertentu. Sekarang pengertian tes di sekolah telah menjadi begitu luas, sehingga meliputi pengertian measurement dan evaluation.
Measurement biasanya diartikan sebagai penilaian yang sifatnya lebih luas daripada testing. Dalam kegiatan pengukuran ini biasanya digunakan instrument yang lebih luas daripada instrumen yang digunakan ketika mentes. Dalam hal ini interpretasi hasil measurement, juga lebih luas daripada hasil tes.
Evaluation dikonsepkan sebagai penilaian yang lebih luas daripada tes dan measurement. Evaluation menggunakan instrumen yang lebih banyak daripada instrumen yang digunakan di dalam measurement dan tes. Penilaian yang digunakan dalam rencana pembelajaran (renpel) biasanya menggunakan istilah tes, misalnya dalam peristilahan pretes dan postes.

C. Fungsi Evaluasi
Penilaian mempunyai beberapa fungsi:
1. Fungsi administratif: untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport.
2. Fungsi promosi: untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.
3. Fungsi diagnostik: Untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
4. Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan.
5. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode, dan alat-alat pembelajaran.
6. Untuk mengetahui keefektifan proses pembelajaran yang telah dilakukan guru, dengan ini guru dapat mengetahui berhasil tidaknya ia mengajar.
7. Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan bagi siswa serta menempatkan siswa pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
8. Menyusun laporan dalam rangka penyempurnaan program belajar mengajar yang sedang berlaku.
9. Fungsi psikologis yang cukup signifikan bagi siswa, guru, dan orangtua/wali siswa. Bagi siswa, penilaian guru merupakan alat Bantu untuk mengatasi kekurangmampuan atau ketidakmampuannya dalam menilai kemampuan dan kemajuan dirinya sendiri. Dengan mengetahui taraf kemampuan dan kemajuan dirinya sendiri, siswa memiliki self-consciousness, kesadarannya yang lugas mengenai eksistensi dirinya dan juga metacognitive, pengetahuan yang benar mengenai batas kemampuan akalnya sendiri. Dengan demikian siswa diharapkan mampu menentukan posisi dan statusnya secara tepat di antara teman-teman dan masyarakatnya sendiri. Bagi guru sebagai evaluator, hasil evaluasi dapat membantu mereka dalam menentukan warna sikap “efikasi diri dan efikasi kontekstual”. Sedangkan bagi orangtua/wali siswa, dengan evaluasi itu kebutuhan akan pengetahuan mengenai hasil usaha dan tanggung jawabnya mengembangkan potensi anak akan terpenuhi. Pengetahuan seperti ini dapat mendatangkan rasa pasti kepada mereka dalam nenentukan langkah-langkah pendidikan lanjutan bagi anaknya.

D. Tujuan Evaluasi
Adapun tujuan penilaian dalam kegiatan proses pembelajaran adalah:
1) Pengambilan putusan tentang hasil belajar.
2) Pemahaman tentang peserta didik.
3) Perbaikan dan pengembangan program pengajaran.
Pengambilan putusan tentang hasil belajar merupakan suatu keharusan bagi seorang guru agar ia dapat mengetahui berhasil tidaknya siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Jika anak dinyatakan “Tidak Berhasil” maka guru harus menyelidiki faktor-faktor di bawah ini:
1) Kemampuan anak didik memang rendah.
2) Kualitas materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat usia anak.
3) Jumlah bahan pelajaran terlalu banyak sehingga tidak sesuai dengan waktu yang diberikan.
4) Komponen proses belajar mengajar yang kurang sesuai dengan tujuan.
Di samping itu, pengambilan putusan juga diperlukan untuk memahami anak didik, untuk mengetahui sejauhmana kekurangan-kekurangan anak didik dapat diberikan bantuan oleh guru, dengan evaluasi dimaksudkan agar dapat memperbaiki dan mengembangkan program pengajaran.
Hampir senada dengan di atas, menurut Muhibbin Syah (2001: 142), tujuan evaluasi ada lima, yaitu:
1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil proses belajar dan mengajar yang melibatkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan belajar siswanya itu.
2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya. Dengan demikian, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai alat penetap akah siswa tersebut termasuk kategori cepat, sedang, atau lambat dalam arti mutu kemampuan belajarnya.
3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Hal ini berarti dengan evaluasi, guru akan dapat mengetahui gambaran tingkat usaha siswa. Hasil yang baik pada umumnya menunjukkan tingkat usaha yang efisien, sedangkan hasil yang buruk adalah cermin usaha yang tidak efisien.
4. Untuk mengetahui hingga sejauh mana siswa telah mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemampuan kecerdasan yang dimilikinya) untuk keperluan belajar. Jadi, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai gambaran realisasi pemanfaatan kecerdasan siswa.
5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses pembelajaran. Dengan demikian apabila sebuah metode yang digunakan guru tidak mendorong munculnya prestasi belajar siswa yang memuaskan, guru seyogyanya mengganti metode tersebut atau mengkombinasikannya dengan metode lain yang serasi.

E. Ruang Lingkup dan Sasaran Evaluasi
Lingkup penilaian meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa, baik kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Langkah pertama yang harus ditempuh guru dalam mengadakan penilaian adalah menetapkan apa yang menjadi sasaran atau objek penilaian, sebab sasaran itu penting diketahui agar memudahkan guru dalam menyusun alat evaluasinya. Pada umumnya ada tiga sasaran pokok penilaian, antara lain:
1) Segi tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, keterampilan siswa sebagai akibat dari proses mengajar dan belajar.
2) Segi isi pendidikan, artinya penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru dalam proses belajar mengajar.
3) Segi yang menyangkut proses mengajar dan belajar itu sendiri. Proses mengajar dan belajar perlu diadakan penilaian secara objektif dari guru, sebab baik tidaknya proses belajar mengajar akan menentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

F. Pembagian Evaluasi
Berdasarkan sasaran penilaian di atas, maka penilaian dapat dibagi dua jenis, yaitu penilaian proses belajar dan penilaian hasil belajar siswa. Penilaian proses belajar adalah penilaian yang dilakukan selama kegiatan belajar berlangsung, dengan mengamati secara cermat tentang kelangsungan para siswa melakukan kegiatan belajar. Adapun yang dimaksud dengan penilaian hasil belajar siswa adalah pengumpulan informasi untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan yang telah dikuasai siswa, yang hasilnya akan dicantumkan dalam akhir laporan catur wulan, tengah semester, semester, dan akhir tahun pelajaran atau akhir suatu satuan pendidikan.

G. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik bila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada 13 prinsip dasar, yaitu:
1. Menyeluruh
Prinsip ini dikenal dengan istilah komprehensif, artinya evaluasi dilaksanakan secara bulat, utuh, atau menyeluruh, menyentuh seluruh aspek tingkah laku siswa, baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hal ini diperlukan karena sesungguhnya aspek-aspek tersebut pada hakikatnya saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, hasil evaluasi terhadap suatu aspek selalu berkaitan dengan aspek lainnya, sedangkan setiap aspek memiliki karakteristik dan tolok ukur penilaian sendiri. Semua indikator ditagis, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan belum, serta mengetahui kesulitan peserta didik.
2. Bersinambungan
Prinsip ini dikenal dengan istilah kontinuitas, artinya evaluasi dilaksanakan secara teratur dan sambung-menyambung atau terus-menerus dari waktu ke waktu. Perkembangan dan kemajuan perilaku anak pada hakikatnya tidak mengenal berhenti. Oleh karena itu evaluasi terhadap perkembangan dan kemajuan anak perlu dilakukan dari waktu ke waktu secara terus menerus.
3. Berorientasi pada Tujuan
Prinsip ini terutama berlaku bagi evaluasi pada lembaga pendidikan persekolahan, khususnya dalam rangka mengevaluasi prestasi belajar anak. Setiap kali guru akan melakukan evaluasi prestasi belajar anak, dia harus terlebih dahulu merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajarannya. Dengan demikian dia dapat mengetahui tingkat penguasaan anak terhadap materi pelajaran yang telah diberikan, yang mendukung terhadap pencapaian tujuan tersebut.
4. Obyektif
Prinsip ini berarti evaluasi terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subyektif, ia dilakukan apa adanya, tanpa tekanan, paksaan, atau pengaruh dari yang lain. Penilai hanya memperhatikan obyeknya, sementara perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, dan prasangka-prasangka sedapat mungkin dikesampingkan pada waktu menilai. Di samping itu penilai juga harus memperhatikan perbedaan-perbedaan perkembangan anak, sehingga tidaklah selalu memberikan penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama. Penilai menggunakan prosedur dan kriteria penilaian yang jelas.
5. Bermakna
Prinsip ini berarti bahwa setiap tindakan evaluasi perlu memberikan arti atau makna ke berbagai pihak, terutama bagi anak itu sendiri, yaitu untuk memotivasi anak dalam mengikuti berbagai kegiatan terprogram untuk kebaikan perkembangannya. Evaluasi harus pula memberikan makna bagi orangtua, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk lebih erat lagi menjalin kerja sama dengan pihak sekolah dalam mengontrol perkembangan anak menuju perkembangan yang optimal.
6. Mendidik
Evaluasi tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau kekurangan anak, melainkan untuk kepentingan anak. Dengan demikian evaluasi harus bersifat mendidik dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Hasil evaluasi yang berhasil diperoleh anak harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada anak dalam meningkatkan hasil pertumbuhan dan perkembangannya. Evaluasi harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi anak yang berhasil dan sebaliknya sebagai peringatan bagi anak yang belum berhasil. Dengan demikian kegiatan evaluasi dapat memperkuat perilaku dan sikap anak secara positif.
7. Kesesuaian
Kegiatan evaluasi harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam proses pembelajaran. Jangan sampai materi yang dievaluasikan belum atau tidak pernah diajarkan kepada anak didik.

8. Valid
Pada prinsipnya, valid artinya absah atau benar. Sebuah alat evaluasi dipandang valid apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Contohnya, apabila sebuah alat evaluasi bertujuan untuk mengukur prestasi belajar matematika, maka item-item (butir-butir soal) dalam alat itu hendaknya hanya direkayasa untuk mengukur kemampuan matematis para siswa. Kemampuan-kemampuan lain seperti kemampuan bidang bahasa, IPS, dan sebagainya tidak perlu diukur oleh instrumen evaluasi matematika tersebut.
9. Adil
Tidak dipengaruhi oleh kondisi atau alasan tertentu yang dapat merugikan peserta didik, misalnya: kondisi fisik, agama, suku, budaya, adat, status sosial atau gender.
10. Terpadu dan Terbuka
Tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran dan prosedur, kriteria serta dasar pengambilan keputusan yang digunakan dalam penilaian harus diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
11. Sistematis
Terencana, bertahap, dan mengikuti langkah-langkah baku.
12. Akuntabel
Dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
13. Reliabel
Reliabel artinya tahan uji atau dapat dipercaya. Sebuah alat evaluasi dipandang reliable apabila memiliki konsistensi atau keajegan hasil. Artinya, apabila alat itu diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan prestasi “X”, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “X” itu dapat pula dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama pada waktu yang lain.

H. Jenis Evaluasi
Untuk mengetahui jelasnya proses kegiatan dan kemajuan belajar dan pencapaian hasil belajar siswa, ada beberapa jenis penilaian yang lazim dilakukan yaitu: penilaian formatif, penilaian sub-sumatif dan sumatif, penilaian kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

1) Penilaian Formatif
a. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilakukan pada akhir tiap satuan pelajaran.
b. Penilaian formatif bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran khusus pada setiap satuan pelajaran telah dicapai.
c. Penilaian formatif berfungsi umpan balik untuk perbaikan proses belajar mengajar.
d. Penilaian formatif dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, kuesioner atau cara lainnya yang sesuai.
e. Siswa dinilai, berhasil dalam penilaian formatif jika mencapai taraf penguasaan sekurang-kurangnya 75 % dari tujuan yang ingin dicapai.
2) Penilaian sub-sumatif dan sumatif
a. Penilaian sub-sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan setelah sejumlah satuan pelajaran tertentu diselesaikan dan dilakukan pada perempat atau setengah catur wulan, setengah semester.
b. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan pada akhir catur wulan/semester.
c. Biasanya siswa dinilai berhasil dalam setiap mata pelajaran jika telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)/Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). Penilaian sub-sumatif dan sumatif dilakukan dengan cara menggunakan tes hasil belajar, kuesioner, atau cara lain.
d. Hasil penilaian sub-sumatif dan sumatif dinyatakan dalam angka nilai 1-10/10-100.
e. Hasil penilaian sub-sumatif dan sumatif dinyatakan atau menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai raport.
f. Penilaian sumatif pada akhir sekolah menjadi pertimbangan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menyelesaikan pendidikan di suatu jenjang sekolah.
3) Penilaian ko dan ekstrakurikuler
a. Penilaian ko dan ekstrakurikuler adalah penilaian yang dilakukan terhadap hasil pelajaran siswa terhadap tugas-tugas yang diberikan dalam rangka memperdalam materi pelajaran yang diterima melalui kegiatan intrakurikuler.
b. Kegiatan ko dan ekstrakurikuler tersebut dapat berupa pekerjaan rumah, kliping, mengarang, penelitian sederhana, dan lain-lain yang sejenis.
c. Nilai kegiatan ko dan ekstrakurikuler menjadikan bahan pertimbangan penentuan ketuntasan belajar seorang siswa untuk setiap satuan bahasan dan merupakan salah satu usaha untuk perbaikan dan pengayaan.

I. Teknik Penilaian
Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian, berupa: tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, inventori, jurnal, penilaian diri, penilaian antar teman, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik, seperti:
1. Teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik, atau tes kinerja.
2. Teknik observasi atau pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.
3. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah, produk, portofolio, dan/atau proyek.
Teknik penilaian di atas memerlukan instrumennya, antara lain:
1. Instrumen tes berupa perangkat tes, berisi butir-butir soal (bentuk pilihan ganda, isian, uraian, praktik),
2. Instrumen observasi adalah lembar pengamatan,
3. Instrumen penugasan adalah lembar tugas,
4. Instrumen inventori ialah skala Thurstone, skala Likert, skala Semantik,
5. Instrumen penilaian diri adalah kuesioner,
6. Instrumen penilaian antar teman adalah kuesioner.
Instrumen penilaian harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu: substansi, konstruksi, dan bahasa. Persyaratan substansi merepresentasikan kompetensi yang dinilai, persyaratan konstruksi adalah persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan persyaratan bahasa berhubungan dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.

J. Mekanisme Penilaian
Secara skematik, mekanisme penilaian dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

K. Kisi-Kisi Penilaian
Kisi-kisi adalah format yang memuat informasi mengenai ruang lingkup dan isi dari kompetensi yang akan dinilai/diujikan. Disusun berdasarkan tujuan penilaian dan digunakan sebagai pedoman untuk pengembangan soal, serta harus mewakili isi kurikulum, komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
cropped-ilam-ok.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s